Larungan Hasil Bumi di Festival Congot Kedungbenda

22
views
Larungan Hasil Bumi di Festival Congot Kedungbenda
5
(3)

DoWisata – Larungan hasil bumi di sungai Klawing dalam Festival Congot Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon, dilepas oleh Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Sabtu pagi (28/09/2019).

Congot atau tempuran (pertemuan) sungai Klawing dan Serayu, di tahun 2019 ini merupakan festival budaya yang ketiga. Dua buah larungan sekaligus sebagai ungkapan syukur suran yang didalamnya berisi hasil bumi.

Bupati Tiwi mengatakan, Festival Congot di Desa Kedungbenda Kemangkon merupakan salah satu festival budaya yang ada di Kabupaten Purbalingga.

Karena di Purbalingga belum banyak festival budaya. Dua festival budaya yang sudah dikenal adalah Festival Congot dan Festival Gunung Slamet.

Kegiatan festival budaya ini merupakan manifestasi dari salah satu pidato Tri Sakti Bung Karno, yakni Indonesia berkepribadian di bidang kebudayaan.

Penyelenggaraan festival Congot ini merupakan salah satu upaya melestarikan dan “nguri-uri” nilai-nilai budaya.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya, khususnya seni dan budaya lokal tradisional.

Selain itu, sebagai salah satu ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena Purbalingga merupakan kabupaten yang kaya potensi alam, seperti Gunung Slamet, potensi sungai Klawing dan banyak curug sebagai destinasi wisata.

“Sungai Klawing memiliki manfaat khususnya bagi warga yang ada di desa Kedungbenda, karena itu kita wajib bersyukur dalam bulan suran ini,” tutur Tiwi.

Lebih lanjut menurutnya, Festival Congot juga untuk mengangkat pariwisata yang ada di Purbalingga, khususnya yang ada di desa Kedungbenda.

Kedungbenda merupakan desa wisata, tidak semua desa memiliki potensi seperti Kedungbenda, kita memiliki wisata susur sungai yang saya yakin mampu menarik wisata-wisatawan untuk hadir ke Kabupaten Purbalingga.

Baca juga:  Anggota Pramuka Diminta Dukung Pariwisata

Tiwi berharap, Festival Congot ke depan tidak hanya menjadi event lokal, namun harus menjadi even regional bahkan even nasional.

Tiwi mengapresiasi warga desa Kedungbenda yang sengkuyung, dan nampak dari warga yang hadir semuanya menggenakan pakaian adat.

Disamping itu, banyak sekali grup kesenian yang ditampilkan, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Keguyuban, kekompokkan dan gotongroyongnya warga Kedungbenda merupakan salah satu modal, agar desa Kedungbenda mampu maju dan membangun desa.

Kedungbenda Berbudaya

Kades Kedungbenda Kecamatan Kemangkon Purwono mengatakan, Desa Kedungbenda memiliki sebutan “Kedungbenda Berbudaya” oleh karenanya Kedungbenda harus melestarikan budaya lokal.

Upaya melestarikan budaya tersebut diwujudkan melalui Festival Congot.

Kegiatan rangkaian Festival Congot dimulai Kamis 26 September 2019 dengan acara syukuran sura dan resik luhur di lokasi situs Lingga Yoni, serta di panembahan Dipokusumo.

Dilanjutkan pada malam harinya diadakan pawai obor dan resik luhur di tempuran sungai Klawing dan Serayu, atau lebih dikenal dengan istilah Congot, dilanjutkan kidungan dan kesenian dames.

Pada Jumat malam (27/9/2019), diadakan Senandung Klawing yang diisi oleh artis asli Purbalingga Nomi dan grup Kamuajo.

Puncaknya hari Sabtu (28/9/2019) berupa Gerebek Suran Festival Congot yang dilengkapi dengan Kontes Njala, Parade Budaya, Pameran produk UMKM.

Untuk parade budaya diisi oleh 20 kelompok, yang berasal dari kelompok kesenian, kelompok tani, dan kelompok nelayan. Untuk larungan hasil bumi di sungai Klawing, kelompok nelayan Mina Rizki menyiapkan dua larungan.

Puncaknya pada malam hari digelar seni wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Kukuh Bayu Setyo Aji.

Apakah informasi ini bermanfaat?

Mohon klik bintang untuk menilai, terima kasih.

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here