Watukambang Berpotensi Sebagai Wisata Cagar Budaya

1449
views
Watukambang Berpotensi Sebagai Wisata Cagar Budaya

DoWisata – Watukambang berpotensi sebagai wisata cagar budaya atau purbakala. Watukambang berada di Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga.

Watukambang berasal dari kata watu dan kambang, yang berarti batu mengapung. Watukambang disebut-sebut warga setempat sebagai cikal bakal Desa Selakambang. Dalam bahasa Jawa, batu juga disebut sebagai Selo/Sela.

Batu ini memiliki ketinggian antara lima hingga sembilan meter, dan diameter mencapai 50 meter. Meski disebut Kambang (mengapung –Jawa), namun batu ini tidak mengapung di air. Hanya lahan di sekitarnya saja yang dikelilingi aliran Sungai Lebak.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Subeno mengatakan, meski belum menjadi objek wisata, namun tempat tersebut sudah mulai banyak dikunjungi tamu. Bahkan, oleh pihak desa setempat, di sekitar lokasi ini juga sering digunakan untuk tempat berkemah.

“Watukambang banyak dikunjungi para remaja dan anak-anak, hal ini tentunya potensial untuk dikembangkan sebagai wisata purbakala,” kata Drs Subeno, SE, M.Si disela-sela melakukan peninjauan Batu Kambang, Selasa (10/3).

Sementara itu Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudparpora, Drs Sri Kuncoro yang mendampingi Subeno mengungkapkan, luasan Batu kambang yang terlihat di bagian atas sekitar 50 meter, namun bagian bawah diduga lebih luas hingga mencapai 200 meter.

Sampai sejauh ini, Dinbudparpora belum memasukan Watukambang sebagai salah satu benda purbakala dan cagar budaya. Namun, jika dilihat dari jenis bebatuan, Watukambang sudah berusia lebih dari 50 tahun, sehingga ditengarai sebagai benda purbakala.

“Kami akan segera mengirimkan data-data Watukambang ke Balai Arkeologi di Yogyakarta, hal ini untuk mengetahui nilai sejarah dari batu tersebut,” kata Sri Kuncoro yang didampingi Kasi Sejarah dan Benda Peninggalan Purbakala, Rien Anggraeni, S.Pd.

Rien Anggraeni menambahkan, data jumlah benda cagar budaya yang juga sudah terdaftar di Balai Arkeologi Yogyakarta sebanyak 224 benda cagar budaya bergerak, 49 benda cagar budaya tidak bergerak, dan 27 buah situs.

Baca juga:  Kampung Bena, Destinasi Wisata Budaya di Nusa Tenggara Timur

Dari jumlah tersebut, belum termasuk Batu Kambang yang ditengarai memiliki nilai sejarah dan masuk dalam cagar budaya.

“Benda Batu Kambang jika dilihat utuh seperti candi, begitu juga dengan batuannya yang keras. Kami meyakini Batu Kambang itu seperti candi yang sudah tertimbun dan dikelilingi sungai,” kata Rien.

Terpisah, Kepala Bidang Pariwisata, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, berdasar penelusuran yang dilakukan pihaknya beberapa waktu lalu, Watukambang dahulu sering dipakai untuk tempat bersemedi.

Namun, berangsur-angsur tidak digunakan semedi, malahan digunakan untuk tempat menggembala ternak. Mulai tahun 2000-an, mulai banyak dikunjungi oleh para remaja yang melakukan refreshing.

Kemudian mulai tahun 2009, mulai sering digunakan untuk berkemah bagi para pramuka di wiayah Kecamatan Kaligondang. Tempat itu mulai dikenal sebagai areal perkemahan tingkat kecamatan setempat. Meski berada di pinggir Sungai Lebak, namun areal ini aman dari terjangan banjir dan angin ribut.

“Namun sayangnya, diatas areal ini banyak sampah plastik bungkus makanan ringan. Bahkan, beberapa tempat terlihat coretan diatas bagian batu,” ujar Prayitno.

Prayitno menambahkan, untuk mencapai areal Watukambang, tidaklah sulit. Dari pusat kota Purbalingga menuju Desa Selakambang ditempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi.

Dari persimpangan Selakambang kemudian menuju arah Timur ke arah Dusun Beji. Kemudian di pertigaan kedua di Dusun Beji, harus turun berjalan kaki, melewati jalan berkelok dan rumah penduduk hingga ke ujung jalan. Selepas ujung jalan ini, pengunjung melewati jalan menurun dan sudah akan melihat Watukambang. (sam)

Apakah informasi ini bermanfaat?

Mohon klik bintang untuk menilai, terima kasih.

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here